Kamis, 14 Januari 2010

PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Timbulnya pembaruan pemikiran Islam di Indonesia baik dalam bidang agama, sosial, dan pendidikan diawali dan dilatar-belakangi oleh pembaruan pemikiran Islam yang timbul di belahan dunia Islam lainnya, terutama diawali oleh pembaruan pemikiran Islam yang timbul di Mesir, Turki dan India. Latar belakang pembarua n yang timbul di Mesir dimulai sejak kedatangan Na¬poleon ke Mesir.
Napoleon memasuki Mesir pada tahun 1798 M. Dalam tempo lebih kurang tiga minggu Napoleon telah dapat menaklukan Mesir. Kedatangan Napoleon ke Mesir tidak hanya membawa pasukan, beliau juga membawa sejumlah ilmuan dalam berbagai bidang. Dalam rombongan terdapat 500 orang sipil dan 500 orang wanita, di antara kaum sipil itu terdapat 167 ahli dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Beliau juga membawa dua set alat percetakan huruf latin, Arab dan Yunani. Dengan demikian, misinya ini tidak hanya untuk kepentingan militer tetapi juga untuk kepentngan ilmiah (Nasution, 1992: 30)
Beliau dirikanlah di Mesir sebuah lembaga ilmiah yang diberi nama dengan Institut d 'Egypt. Lembaga ini memiliki empat bi¬dang kajian pokok, yaitu kajian ilmu pasti, ilmu alam, ekonomi-politik, sastra, dan seni.
Di lembaga ini ditemukan beberapa perlengkapan-perlengkap-an ilmiah yang belum dimiliki oleh masyarakat Mesir ketika itu, seperti mesin cetak, teleskop, mikroskop, dan alat-alat untuk percobaan kimiawi. Napoleon juga memperkenankan ulama-ulama Mesir untuk berkunjung ke lembaga tersebut. Salah seorang di antara ulama dari Al Azhar yang pernah mengunjungi lembaga ini adalah Abdur Rahman Al Jabarti. Beliau amat kagum terhadap apa yang dilihatnya di lembaga tersebut, perpustakaan yang memuat beraneka macam buku-buku agama dalam bahasa Arab, Parsi dan Turki, serta berbagai alat-alat ilmiah lainnya. Akhirnya setelah beliau mengunjungi lembaga tersebut, beliau tulis kesan kunjungannya itu dengan kata-kata:
" Saya lihat di sana benda-benda dan percobaan-percobaan ganjil yang menghasilkan hal-hal yang besar untuk dapat ditangkap oleh akal seperti yang ada pada diri kita " (Nasution: 1992: 31)
Komentar ulama tersebut menunjukkan kekagumannya ter¬hadap produk ilmu pengetahuan yamg dipertunjukkan kepadanya di lembaga ilmiah tersebut dan hal ini membuktikan betapa sesungguhnya masyarakat muslim Mesir jauh tertinggal dalam bidang ilmu pengetahuan dibanding dengan bangsa Eropa (dalam hal ini Perancis).
Di Turki juga mengalami hal yang sama, yaitu telah dirasakan keunggulan bangsa Eropa dari bangsa Turki. Kesadaran ini muncul ketika bangsa Turki selalu kalah berperang dengan bangsa Eropa. Kekalahan demi kekalahan ini membuat bangsa Turki ingin mengetahui penyebabnya. Akhirnya, diketahuilah bahwa bangsa Eropa lebih unggul dari bangsa Turki dalam bidang ilmu pengetahuan dan hal ini sekaligus berdampak terhadap persenjataan serta siasat perang bangsa Eropa yang lebih unggul pula dari bangsa Turki.
Dari berbagai kenyataan ini menunjukkan bahwa bangsa Eropa itu lebih unggul dalam bidang ilmu pengetahuan dari kaum muslimin baik yang tinggal di Mesir, Turki dan daerah lain. Kontak dengan Eropa itu menimbulkan kesadaran bagi masya¬rakat muslim terutama tokoh-tokohnya tentang kemajuan Eropa dan ketinggalan mereka.
Peristiwa ini menimbulkan kesadaran umat Islam untuk mengubah diri. Kesadaran mengubah diri itulah menimbulkan fast pembaruan dalam periodesasi sejarah Islam. Fase pembaruan itu muncul sebagai sahutan terhadap tuntutan kemajuan zaman dan sekaligus juga sebagai respons umat Islam atas ketertingalan mereka ketika itu dalam bidang ilmu pengetahuan. Muncullah di dunia Islam tokoh-tokoh yang berteriak agar umat Islam me¬ngubah diri guna menuju kemajuan, meninggalkan pola-pola lama menuju pola baru yang berorientasi kepada kemajuan zaman.
Di Mesir muncullah pertama sekali Muhammad Ali Pasha yang banyak mendirikan lembaga-lembaga pendidikan umum, seperti Sekolah Meliter, teknik dan kedokteran, Sekolah Pertambangan dan Iain-lain, juga digalakkan penterjemahan buku-buku dari bahasa Eropa ke Bahasa Arab di Turki muncul Sultan Mahmud II, yang juga banyak mendirikan lembaga pendidikan umum, seperti Sekolah Meliter, Sekolah Teknik, Kedokteran Pembedahan di tahun 1838 digabunglah Sekolah Kedokteran dengan Sekolah Pembedahan dengan nama Dar-ul Ulama Hikemiye ve Mekteb-i Tibbiye-i Sahane. Di India muncul pula tokoh seperti Said Ahmad Khan, yang mendirikan lembaga pen¬didikan MAOC (Muhammedan Anglo Oriental College) yang kemudian pada tahun 1920 menjadi Universitas Aligarh. AMU (Aligarh Muslim University) merupakan sebuah universitas terkemuka di India Utara sampai hari ini.
Gaung kemajuan dan gema pembaruan itu sampai juga ke Indonesia. Di awal abad ke-20 muncullah beberapa tokoh-tokoh pembaru pemikiran Islam di Indonesia. Para pembaru itu banyak bergerak di bidang organisasi sosial, pendidikan dan politik. Di antaranya Syekh Muhammad Jamil Jambek, Syekh Thaher Jalaluddin, Haji Karim Amrullah, Haji Abdullah Ahmad, Syekh Ibrahim Musa, Zainuddin Labai Al Yunusi, yang kesemuanya ini berasal dari Minangkabau.
Di Jawa muncul tokoh H. Ahmad Dahlan, dengan gerakan Muhammadiyah, H. Hasan, dengan Gerakan Persatuan Islam (Persis), Haji Abdul Halim dengan gerakan Perserikatan Ulama. KH. Hasyim Asy'ari dengan organisasi Nahdatul Ulama. Tokoh-tokoh ini semuanya banyak bergerak di bidang pendidikan. Muncul¬lah upaya-upaya untuk memperbarui pendidikan Islam di Iiidoitrsiii.
Latar belakang pembaruan pendidikan Islam di Indonesia dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama pembaruan yang bersumber dari ide-ide yang muncul dari luar yang dibawa oleh para tokoh atau ulama yang pulang ke tanah air setelah beberapa lama bermukim di luar negeri (Mekkah, Madinah, Kairo). Ide-ide yang mereka peroleh di perantauan itu menjadi wacana pembaruan setelah mereka kembali ke tanah air.
Mekkah sebagai tempat berkumpulnya umat Islam sedunia terutama pada musim haji, maka berbagai ide dan pemikiran keagamaan bertemu di tempat tersebut Pemikiran-pemikiran keagamaan yang meliputi akidah, fikih, sufistik dari berbagai penjuru dunia Islam bertemu di Kota Suci Mekkah, demikian juga pemikiran dan gerakan-gerakan politik, tentu juga tidak ketinggalan pemikiran dan gerakan pembaruan pemikiran Islam yang muncul di abad ke sembilan belas.
Syekh Thaher Djalaluddin, adalah salah seorang di antara pelajar Indonesia yang bermukim di Mekkah untuk menuntut ilmu ia lahir di Ampek Angkek, Bukittinggi pada tahun 1869. Beliau mempunyai hubungan langsung dengan Al Azhar di Kairo, dan beliau banyak dipengaruhi oleh pemikran Muhammad Abduh Sekembalinya dari Mekkah pada tahun 1900 beliau mendirikan sekolah di Singapura dengan nama al Iqbal al Islamiyah. Di samping itu beliau terbitkan pula majalah Allmam. Majalah ini sering mengutip pendapat dari Muhammad Abduh dan juga pendapat yang dikemukakan oleh majalah Al Manor di Mesir. Syekh Taher adalah orang yang dituakan dari tiga ulama lainnya yang juga sangat berpengariih di Sumatera Barat, yaitu Syek Muhammad Djamil Djambek, Haji Karim Amrullah dan Haji Abdullah Ahmad (Noer, 1980: 40). Pemikiran-pemikiran modernis yang mereka terima dari pergulatan pemikiran yang berkembang di dunia Islam ketika itu mereka bawa ke Indonesia. Muncullah gagasan dan ide pembaruan pendidikan Islam di Indonesia, seperti yang dicanangkan oleh H. Abdullah Ahmad dengan mendirikan Adabiyah School di tahun 1909 setelah beliau mengunjungi Sekolah Al Iqbal di Singapura
Selain dari itu, faktor yang bersumber dari kondisi tanah air juga banyak memengaruhi pembaruan pendidikan Islam di Indo¬nesia. Kondisi tanah air Indonesia pada awal abad ke 20 adalah dikuasai oleh kaum penjajah barat. Dalam bidang pendidikan pemerintah kolonial Belanda melakukan kebijakan pendidikan diskriminatif. Lembaga pendidikan di kala itu di tanah air dibagi atas tiga strata. Strata pertama adalah strata tertinggi yaitu sekolah untuk anak-anak Belanda ELS, HBS dan seterusnya ke perguruan tinggi. Strata kedua adalah untuk anak-anak bumiputra yang orang tuanya memiliki kemampuan ekonomi dnn mempunyai posisi di pemerintahan, dapat disebut sebnjjui kelompok elit masyarakat Indonesia. Anak-anak mcrokii dimasukkan ke sekolah HIS, MULO, AMS selanjutnya ke per-guruan tinggi. Strata terendah adalah anak-anak bumiputra, yailu kelompok orang kebanyakan hanya boleh mengecap.pendidikan Sekolah Desa (3 tahun) atau Sekolah Kelas Dua (5 tahun).
Sementara itu di kalangan umat Islam memiliki lembaga pen¬didikan pesantren, rangkang, dayah, surau. Dengan menekankan mata pelajaran agama yang bersumber dari kitab-kitab klasik. Pendidikan pesantren ini sama sekali amat berbeda sistemnya dengan sekolah-sekolah pemerintah. Melihat kondisi yang de¬mikian itu, maka sebagian dari tokoh-tokoh umat Islam berupaya untuk melaksanakan pembaruan dalam bidang pendidikan.,
Di kalangan Muhammadiyah, berdirilah sekolah-sekolah yang mengambil nama sama dengan sekolah-sekolah pemerintah HIS, MULO, AMS yang diberi dengan muatan keagamaan. Sekolah yang demikian itu diberi nama HIS met de Our'an, MULO met de Qur'an, dan sebagainya.
Selain dari itu Abdullah Ahmad di Sumatera Barat memelopori berdirinya madrasah, yang sistemnya mendekati dengan sekolah pemerintah, berbeda dengan sistem pesantren.

1.2 Rumusan Masalah
a. Apa Pengertian Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia
Steenbrink mengemukakan bahwa ada 4 faktor pendorong bagi perubahan Islam di Indonesia. Salah satu dari keempat faktor itu adalah dorongan yang berasal dari pembaruan pendidikan Islam. Menurut beliau, cukup banyak orang dan organisasi Is¬lam tidak puas dengan metode tradisional dalam mempelajari Qur'an dan studi agama, maka pribadi-pribadi dan organisasi Islam pada permulaan abad ke-20 ini berusaha memperbaiki pendidikan Islam, baik dari segi metode maupun isinya. Mereka juga mengusahakan kemungkinan memberikan pendidikan umiim untuk orang Islam (Steenbrink, 1985: 28).
Ada beberapa indikasi pendidikan Islam sebelum dimasuki oleh ide-ide pembaruan:
1. Pendidikan yang bersifat nonklasikal. Pendidikan ini tidak dibatasi atau ditentukan lamanya belajar seseorang ber-dasarkan tahun. Jadi seseorang bisa tinggal di suatu pe-santren, satu tahun atau dua tahun, atau boleh jadi beberapa bulan saja, bahkan mungkin juga belasan tahun.
2. Mata pelajaran adalah semata-mata pelajaran agama yang bersumber dari kitab-kitab klasik. Tidak ada diajarkan mata pelajaran umum.
3. Metode yang digunakan adalah metode sorogan, wetonan, hafalan, dan muzakarah.
4. Tidak mementingkan ijazah sebagai bukti yang bersangkutan telah menyelesaikan atau menamatkan pelajarannya.
5. Tradisi kehidupan pesantren amat dominan di kalangan santri dan kiai. Ciri dari tradisi itu adalah antara lain kentalnya hubungan antara kiai dan santri. Hubungan bathin ini berlangsung terus sepanjang masa. Kontak-kontak pribadi itulah yang terpelihara sepanjang masa. Santri yang telah me¬nyelesaikan pelajaran di suatu pesantren bisa jadi pindah ke pesantren lain atau mendirikan pesantren baru, namun kontak pribadinya dengan kiai, di mana dia pernah berguru masih tetap terpelihara.
Dipandang dari sudut masuknya ide-ide pembaruan pemikiran Islam ke dalam dunia pendidikan, setidaknya ada tiga hal yang perlu diperbarui. Pertama, metode yang tidak puas hanya dengan metode tradisional pesantren saja, tetapi diperlukan metode-me-tode baru yang lebih merangsang untuk berpikir. Kedua, isi atau materi pelajaran sudah perlu diperbarui, tidak hanya meng-andalkan mata pelajaran agama semata-mata yang bersumber dari kitab-kitab klasik. Sebab masyarakat muslim sejak awal abad kedua puluh di Indonesia telah merasakan peranan ilmu pengetahuan umum bagi kehidupan individu maupun kolektif. Ketiga, manajemen. Manajamen pendidikan adalah keterkaitan antara sistem lembaga pendidikan dengan bidang-bidang lainnya di pesantren.
Ketiga macam ini adalah merupakan tuntutan terhadap ke-butuhan dunia pendidikan Islam di kala itu. Dengan demikian, jika ide-ide pembaruan itu diterapkan dalam dunia pendidikan Islam, maka ianya merupakan salah satu jalan menuju perbaikan pendidikan Islam di Indonesia.
Dari berbagai uraian terdahulu dapat dikemukakan beberapa indikasi terpenting dari pendidikan Islam pada masa pembaruan,
b. Bagaimana Pendidikan Islam di Indonesia
c. Apa Tujuan dan Sasaran Pembaruan
d. Siapakah Tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia
e. Sebutkan Faktor-faktor Terjadinya Proses Pembaruan Pendidikan Islam

1.3 Tujuan Penulisan
a. Mengetahui Pengertian Pembaruan Pendidikan di Indonesia
b. Mengetahui Bagaimana Pendidikan Islam di Indonesia
c. Mengetahui Tujuan dan Sasaran Pembaruan
d. Mengetahui Tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia
e. Mengetahui Faktor-faktor terjadinya Proses Pembaruan Pendidikan Islam

1.4 Kegunaan Penulisan
Berdasarkan Studi Pustaka menggali bahan-bahan dari sumber buku (referensi) yang ada, maka makalah ini disusun dengan pembagian menjadi 3 bab yaitu:
BAB I PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN
BAB III PENUTUP

1.5 Sistematika Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, bab pertama berupa pendahuluan yang berisi Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penulisan, Kegunaan Penulisabn dan Sistematika Penulisan
Bab kedua merupakan pembahasan tentang pengertian pembaruan pendidikan Islam di Indonesia, tokoh-tokoh pembaruan pendidikan Islam di Indonesia, Faktor-faktor terjadinya Proses Pembaruan Pendidikan Islam.

BAB II
PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

2.1 Pengertian Pembaruan Pendidikan Islam
Pendidikan Islam di Indonesia masih menghadapi berbagai masalah dalam berbagai aspek. Upaya perbaikannya belum dilakukan sacara mendasar, sehingga tefkesan seadanya saja. Upaya pembaharuan pendidikan Islam secara mendasar selalu di hambat oleh berbagai masalah mulai dari persoalan dana sampai tenaga ahli. Padahal pendidikan Islam dewasa ini, dari segi apasaja terlihat goyah terutama karena orientasi yang semakin tidak jelas (muslih Usa, 1991 :11-13). Berdasarkan uraian ini, ada dua alasan pokok mengapa konsep pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia untuk menuju masyarakat madani sangat mendesak:
1. Konsep dan praktek Pendidikan Islam dirasakan terlalu sempit, artinya terlalu menekankan pada kepentingan akhirat, sedangkan ajaran Islam menekankan pada keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat. Maka perlu pemikiran kembali konsep pendidikan Islam yang betul-betul didasarkan pada asumsi dasar tentang manusia yang akan diproses menuju masyarakat madani.
2. lembaga-lembaga pendidikan Islam yang di miliki sekarang ini, belum atau kurang mampu memenuhi kebutuhan umat Islam dalam menghadapi tantangan dunia modern dan tantangan masyarakat dan bangsa Indonesia disegala bidang.

2.2 Pendidikan Islam di Indonesia
Dalam lembaga pendidikan yang memegang peranan penting pada penyebaran agama Islam sangat banyak seperti langgar, pesantren, keluarga, sekolah dan termasuk individu itu sendiri yang menentukan arah mana pendidikan yang ia pelajari.
Pendidikan Islam merupakan suatu yang amat penting bagi kehidupan manusia, namun kadangkala orang-orang banyak yang lupa diri dan bahkan tak mengenal dirinya, dari mana ia dating dan kearah mana dia akan kembali.
Kehidupan materi merlupakan mereka akan suatu yang disebut dengan maut, sehingga pendidikan utama yang seharusnya mereka tanamkan dan kepribadiannya kita terlewatkan. Mereka tenggelam dalam kehidupan yang serba semu.
Sejarah mengatakan pendidikan Islam yang timbul pada tahun 610 Masehi yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, ketika beliau berumur 40 tahun yang kemudian berkembang dengan pesatnya sampai saat ini merupakan petunjuk bagi orang yang menghayatinya kemudian sebagai peringatan bagi orang yang lalai, ini merupakan suatu yang amat menakjubkan. Adapun isi pendidikan Islam di Indonesia ialah:
1. Pendidikan keagamaan, yakni hendaklah membaca dengan nama Allah semata dan tidak menyekutukannya. Jadi disini jelas bahwa tujuan pertama dari Pendidikan Islam harus mengandung unsur peribadatan kepada Allah SWT.
2. Pendidikan Akhliyah dan ilmiah yaitu, yakni mempelajari asal muasal kejadian manusia dan alam semesta. Untuk menyelidiki atau mengadakan suatu peribahasa mengenai suatu yang belum kita ketahui.
3. Pendidikan akhlak dan budi pekerti, dalam hal ini dituntut untuk memberikan suatu ilmu pengetahuan tanpa pamrih melainkan karena Allah.
4. Pedidikan jasmani (kesehatan) yang mengutamakan kebersihan baik bersih pakaian, badan maupun tempat yang akan digunakan untuk pelaksanaan pendidikan itu sendiri. Dalam hal ini ada keterkaitan antara si pendidik dan anak didik.

2.3 Tujuan dan Saran Pembaruan Pendidikan Islam
Menurut sebagian tokoh-tokoh pembaru Islam, salah satu penyebab kemunduran umat Islam adalah karena merosotnya kualitas pendidikan Islam. Untuk itu, perlu mengembalikan kekuatan pendidikan Islam sebagai penyangga kemajuan umat Islam sehingga nanti akan bermunculan gagasan-gagasan tentang pembaruan pendidikan Islam yang di ikuti dengan pelaksaan perubahan penyelenggaraannya.
Kebangkitan intelektual di barat telah memberikan kontribusi yang besar terhadap Eropa. Semangat rasionalisme akibat dari adanya informasi pengetahuan yang mereka dapat telah membuat negara-negara Barat menjadi kuat, baik militer, ekonomi, maupun ilmu pengetahuan dan teknologi. Satu kondisi kondusif yang pernah di alami umat Islam pada masa-masa kejayaannya. Kini kondisi itu seakan berbalik, dimana barat yang dulunya sangat terbelakang (lemah dalam DPTEK) menjadi kian maju sarat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mereka kuasai, sedang Islam tidak lagi memiliki kekuatan yang dapat dibanggakan. Hal ini membuat Isla merasakan kekalahan-kekalahan ketika Barat mulai bangun dan berusaha melepaskan diri dari kekuasaan Islam.
Bila kita merujuk pada pola pembaruan pendidikan Islam diatas pola pembaruan yang bercorak Modemis dan tradisionalis, tidak sedikit tokoh yang mencoba melakukan pembaruan dalam bidang ini. Namun, pada pembahasan ini akan menguraikan secara panjang lebar pembaruan pendidikan Islam yang bercorak modemis yang dilakukan pada tiga wilayah kerajaan besar, yakni kerajaan Turki Usmani, Mesir dan India, yang sudah sangat jelas dengan para tokoh pebaruannya.

2.4 Tokoh-tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia
1. SYAIKH ABDULLAH AHMAD
Abdullah Ahmad, tokoh pembaru Pendidikan Islam dari Sumatera Barat adalah Pioneer dan pelopor yang pertama kali memperkenalkan sistem madrasah, yaitu model pendidikan agama yang menggunakan kelas yang dilengkapi bangku, meja, papan tulis, kurikulum yang terstandar, ijazah, dan visi lulusasannya yang disesuaikan dengna perkembangan zaman. Lulusannya selain menguasai Ilmu agama Islam, juga menguasai ilmu pengetahuan umum, keterampilan, mampu berbahasa asing, khususnya bahasa Arab dan Inggris.
A. Sejarah Kehidupannya
Abdullah Ahmad lahir di padang panjang pada tahun 1878, sebagai anak dari Haji Ahmad yang dikenal sebagai seorang ulama dan juga sebagai pedagang kecil.
B. Pemikiran Pendidikannya
Abdullah Ahmad juga pendidik pada zamannya. Dalam kedudukannya sebagai pendidik ini, ia banyak memiliki gagasan dan pemikiran dalam bidang pendidikannya yang masih relevan untuk diterapkan di masa sekarang. Gagasan dan pemikirannya dalam bidang pendidikan antara lain sebagai berikut:
Pertama, tentang pemerataan pendidikan. Kedua, tentang kurikulum. Ketiga, tentang dana pendidikan. Keempat, tentang komodernan. Kelima, tentang metode pengajaran.
Selanjutnya, Abdullah Ahmad juga mengajukan metode pendidikan melalui pemberian hadiah dan hukuman sebagaimana yang berkembang saat ini. Menurutnya, bahwa pujian perlu diberikan oleh guru apabila anak didiknya memiliki ahlak yang mulia, dan hukuman diberikan apabila anak berbuat sebaliknya.
Metode lainnya yang perlu diterapkan menurut Abdullah Ahmad adalah metode bermain dan rekreasi.
Berdasarkan pemikiran tersebut di atas, kita dapat mengatakan bahwa Abdullah Ahmad termasuk ke dalam kelompok pembaru Pendidkan Islam.
Ia merasa sistem Pendidikan Islam tradisional sudah tidak relevan dan kurang produktif, kemudian ia mengantikannya dengan system klasikal, madrasah. Namun rupanya masyarakat belum siap menerima system baru yang diperkenalkannya, sehingga ia mendapat kritik dan tantangan keras dari masyarakat.

2. RAHMAH EL-YUNUSIAH
Pendidikan yang berlangsung di Indonesia, selalin bercorak tradisional, juga kurang memberikan kesempatan yang sama terhadap kaum wanita.
Wanita sering diposisikan sebagai manusia yang tugasnya hanya mengurus rumah tangga. Karena itu mereka kurang memiliki akses untuk merebut berbagai peluang dalam dunia kerja, serta berbagai kesempatan lainnya.
Kondisi sosial yang demikian itu telah menggugah tokoh pembaru Pendidikan Islam dari Sumatera Barat, bernama Rahmah El-Yunusiah. Dialah wanita pertama yang menaruh perhatian terhadap pentingya pendidikan bagi kaum wanita.



A. Riwayat Hidup
Tokoh Pendidikan dan Perjuangan Islam Wanita dari Sumatera Barat ini, lahir di Padang Panjang pada tanggal 29 Desember 1900, dan wafat di daerah yang sama pada tanggal 26 Februari 1969.
Dialah pendirir Madrasah Diniyah Putri Padang Panjang (Sumatera Barat) yang merupakan perguruan wanita Islam pertama di Indonesia, dan pelopor berdirinya Tentara Kemanan Rakyat (TKR) di Sumatera Barat.
B. Usaha-Usaha di Bidang Pendidikan
Rahmah adalah orang yang pertama mendirikan sekolah yang khusus untuk kaum wanita melalui lembaga yang didirikannya. Ia bercita-cita agar kaum wanita sanggup berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) untuk menjadi ibu, pendidik yang cakap, aktif dan betanggung jawab kepada kesejahtraan bangasa dan tanah air, dimana kehidupan agama mendapat tempat yang layak. Cita-citanya ini dirumuskan dalam tujuan pendirian Diniyah Putri.
Rahmah El-Yunusiah sangat kuat pendiriannya dalam menanamkan jiwa agama di lembaga pendidikan yang dibangunnya.Beliau pendidik yang berjiwa nasionalisme dan patriotisme yang amat kuat. Ia merupakan orang pertama yang mengibarkan bendera merah putih di sekolah yang didirikannya, yaitu ketika mendengar berita proklamasi kemerdekaan.
Rahma El-Yunusiah juga tercatat sebagai orang yang pertama kali memiliki cita-cita mendirikan perguruan dan Rumah sakit yang khsusus untuk kaum wanita.
Rahmah El-Yunusiah telah mencapai kemajuan yang diakui oleh dunia, sebagaimana terlihat pada penghargaan sebagai syaikhah yang diberikan oleh Universitas Al-Azhar, Kairo kepadanya.
Akhirnya kita dapat mencatat, bahwa Rahma El-Yunusiah termasuk orang yang berprestasi tinggi, pelopor emansipasi wanita, pejuang nasionalisme dan patriotisme sejati, serta memiliki pemikiran, pandangan, cita-cita, dan upaya-upaya kongkret yang original dan genuine sebagai hak paten yang dimilikinya.



3. AS PANJI GUMILANG
As Panji Gumilang adalah seorang tokoh yang berhasil membangun Lembaga Pendidikan terbesar dan termegah di kawasan Asia Tenggara, bahkan mungkin di dunia. Di atas lahan seluas 1.200 hektar, ia membangun Lembaga Pendidikan yang diberi nama Al-Zaitun
A. Riwayat Hidup
Abdus Salam Panji Gumilang selanjutnya bernama Syaikh As Panji Gumilang dilahirkan pada tanggal 30 Juli 1946 di Desa Sembunganyar, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Setelah menimba pengalaman bertahun-tahun di negeri jiran, Malaysia, As Panji Gumilang kini mewakafkan dirinya sebagai Syaikh Ma’had Al-Zaytun, disamping sebagai ketua Ikatan Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang terpilih sejak tahun 2002.
B. Gagasan dan Pemikirannya
Gagasan dan pemikirannya As Panji Gumilang dalam pendidikan dapat dilihat dari karya monumental dan spektakulernya dalam pembangunan Ma’had Al-Zaytun yang dibangun sejak tahun 1995 dan mulai resmi beroperasi pada tanggal 27 Agustus 1999.
Selanjutnya pengembangan masalah pertanian, Ma’had Al-Zaytun telah berhasil membuktikan. Tentang makna dan fungsi kekhalifahan manusia di muka bumi yang diwujudkan dengan ikhtiar dan kerja keras yang sungguh-sungguh disertai dengan tawakal kepada Allah.
Ma’had Al-Zaytun telah mengajarkan tentang perlunya melakukan suatu pekerjaan secara kaffah, berkelanjutan, berjangka panjang, memberi manfaat bagi orang banyak, dan sekaligus berkualitas.
Dan juga menampilkan sosok sistem pendidikan yang khas, arah dan tujuan utama pendidikan untuk mempersiapkan agar peserta didik memiliki Akidah yang kokoh terhadap Allah SWT. Dan syariat-Nya, mampu menyatu dalam tauhid, berakhlak mulia, berilmu pengetahuan luas, dan berketerampilan tinggi.
Selain dari ketiga tokoh pembaruan pendidikan Islam diatas masih banyak lagi tokoh-tokoh yang lainnya diantaranya:
1. SYEKH IBRAHIM MUSA PARABEK
2. Prof. Dr. H. MAHMUD YUNUS
3. MUHAMAD NATSIR
4. K.H. AHMAD DAHLAN
5. K.H. HASYIM ASY’ARI
6. KI HAJAR DEWANTARA
7. K.H. ABDULLAH SYAFI’I
8. K.H. ABDULLAH BIN BUH
9. K.H. IMAM ZARKASYI
10. K.H. SAIFUDDIN ZUHRI
Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh yang lainnya.

PEMBARUAN SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA
Sistem Pendidikan Islam di masa kini dan masa yang akan dating perlu dipikirkan dan dibicarakan sebab-sebab permasalahannya antara lain.
Pertama : Bahwa penyelenggaraan pendidikan Islam secara formal/informal belum sesuai dengan pengertian pendidikan Islam itu sendiri, artinya belum bias mewarnai apa yang diharapkan oleh Islam itu.
Kedua : bahwa sistem dan metode itu masih dalam lingkaran pendakian (proses de islami).
Adapun pembaharuan pendidikan Islam meliputi:
1. Adanya perubahan dari sistem ke sistem madrasah.
2. Adanya perubahan dari sistem ke sistem sekolah Islam.
3. Adanya kewajiban mempelajari Agama Islam di sekolah-sekolah umum sesuai dengan Undang-Undang Pendidikan Nomor 4 tahun 1950 pasal 20 ayat 1 dan 2 yaitu:
1. Dalam sekolah-sekolah negeri diadakan pelajaran agama, orang tua murid menetapkan apakah anaknya akan mengikuti pelajaran tersebut.
2. Cara menyelenggarakan pengajaran agama di sekolah-sekolah negeri diatur dalam peraturan yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bersama-sama dengan Menteri Agama.
3. Adanya keterpaduan antara pembinaan imanisasi insani dan akhlak insani dengan melalui penggalian ilmu duniawi dan ukhrowi yang minimal bandingannya seimbang.
4. Adanya penyelenggaraan pendidikan Islam yang berorientasi pada Nur Illahi, bukan semata-mata berorientasi pada teori bisnis dan bukan semata-mata berorientasi pada teori bisnis dan bukan semata-mata berbobot kepada sistem sekular, termasuk Perguruan Tinggi Islam Negeri maupaun perguruan Tinggi Islam Swasta.
5. Adanya pendidikan Islam melalui media Al-Qur’an yang utama dan paling utama sebagai basis (dasar lingkungan keluarga).
6. Sebagaimana menurut data pada departemen Agama RI, pada taun 1950 bahwa bangsa Indonesia mengalami buta aksara Al-Qur’an sekitar 25 % kemudian pada tahun 1988 terdapat 75 % sehingga menurun menjadi 55 % buta aksara Al-Qur’an.
7. Adanya asimilasi (peleburan) sistem pendidikan agama Islam di pondokk modern dengan sistem pendidikan Islam di pondok pesantren tradisional. Dalam hal ini, bias dilihat dalam sekema sebagai berikut.

2.5 Faktor-Faktor Terjadinya Proses Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia
1. Faktor kebutuhan pragmatis umat Islam yang sangat memerlukan satu sistem pendidikan yang betul-betul bisa dijadikan rujukan dalam rangka mencetak manusia-manusia muslim yang berkualitas, bertakwa, dan beriman kepada Allah.
2. Agama Islam melalui ayat suci Al-Qur'an banyak menyuruh atau menganjurkan umat Islam untuk selalu berpikir, dan bermetaforma
(membaca dan menganalisis sesuatu untuk kemudian bisa diterapkan
atau bahkan bisa menciptakan hal yang baru dari apa yang kita lihat).
3. Adanya kontak Islam dengan Barat, yang menggugah dan membawa
perubahan paradigmatis umat Islam untuk belajar secara terus menerus
kepada Barat, sehingga ketertinggalan yang dirasakan akan bisa di
minimalisir.
Tantangan utama yang dihadapi umat islam sekarang adalah peningkatan mutu sumber insaninya, dalam menempatka diri dan memainkan perannya dalam komunitas masyarakat madani dengan menguasai ilmu dan teknologi yang berkembang semakin pesat. Yang dapat mengolah kekayaan alam yang diciptakan Alloh untuk manusia dan diamanatkan-Nya kepada manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini untuk di olah bagi kesejahtraan manusia. Maka masyarakat madani yang diprediksi memiliki ciri; Universitas, Supermasi, Keabadian, Pemerataan kekuatan, Kebaikan dari dan untuk bersama, meraih kebijakan umum dan Iain-lain. Maka, untuk mengantisipasi perubahan pendidikan Islam adalah:
1. Pendidikan harus menuju pada integritas antara ilmu agama dan ilmuumum, untuk tidak melahirka jurang pemisah antara ilmu agama dan ilmu bukan agama, karena dalam pandangan seorang muslim, ilmu pengetahuan adalah satu yaitu yang berasal dari Allah SWT.
2. Pendidikan menuju tecapainya sikap dan prilaku toleransi, lapang dada dalam berbagai hal dan bidang, terutama toleran dalam perbedaan pendapat dan penafsiran ajaran Islam, tanpa melapaskan pendapat atau prinsipnya yang diyakini.
3. Pendidikan yang mampu menumbuhkan kemampuaan untuk berswadaya dan mendiri dalam kehidupan.
4. Pendidikan yang menumbuhkan etos kerja, mempunyai aspirasi pada kerja, disiplin dan jujur.
5. Pendidikan Islam harus didisain untuk mampu menjawab tatangan masyarakat madani.




BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Menurut sebagian tokoh-tokoh pembaharu Islam, salah satu penyebab kemunduran umat Islam adalah karena merosotnya kualitas Pendidikan Islam. Untuk itu perlu mengembalikan kekuatan pendidikan Islam sebagai penyannga kemajuan umat Islam sehingga nanti akan bermunculan gagasan-gagasan tentang pembaharuan Pendidikan Islam yang diikuti dengan pelaksanaan perubahan penyelenggaraaan
Terjadinya kemuduran umat Islam lebih disebabkan oleh ketidaktaatan kaum muslimin dalam menjalankan ajaran Islam menurut semestinya. Pola ini berpandangan bahwa sesungguhnya Islam sendiri merupakan sumber bagi kemajuan dan perkembangan peradaban serta ilmu pengetahuan modern, dalam hal ini Islam telah membuktikannya pada masa kejayaan di masa silam. Bai kelompok ini, adanya kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan yang pernah dialami umat Islam seharusnya menjadi referensi atau bahkan sandaran kalau sesungguhnya Islam itu sendiri, melalui ajaran yakni Al-Qur’an dan Hadist bias memajukan umatnya tanpa harus berkiblat pada barat, justru kita harus kembali menengok masa. Masa silam kejayaan umat Islam, bukan malah berbalik memalingkan atau tidak menengok sama sekali kebelakang.

3.2 Saran
Dalam penulisan makalah ini, sangatlah penting memahami pentingnya dan mengetahui bentuk atau sejarah pembaruan pendidikan Islam khususnya di Indonesia, hal ini sangat besar sekali manfaatnya untuk menunjang pembelajaran kepada peserta didik untuk m enambah wawasan, sehingga pengetahuan kita bertambah.




DAFTAR PUSTAKA


- Wahab, Rochidin. 2004. Sejarah Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia. Cet. I. Bandung: Alfa Beta
- Nata, Abuddin. 2005. Tokoh-Tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia. Cet. I. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
- Daulay, Putra Haidar. 2007. Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia. Cet. I. Jakarta: Prenada Media Group.
- Fauzan & Suwinto. 2005. Sejarah Sosial Pendidikan Islam. Cet. I. Jakarta: Prenada Media Group
- http://noesathea.wordpress.com/2009/10/29-tokoh pembaruan pendidikan-islam

Senin, 30 November 2009

Tini Rostini Tips Ketiga hari ke-3

KECEWA

Saya kecewa sekali pada tahun ini tidak bisa melak sanakan kurban sebagaimana biasa karena mungki beban biaya yang bertambah banyak, saya sudah berusaha menabung namun tidak bisa mencukupi. Saya berpikir mengapa saya harus memaksakan sendiri, toh, Allah juga tidak akan menerima pengorbanan hambanya yang secara terpaksa. Insyallah pada tahun depan saya akan berusaha untuk melaksanakanya.

Rabu, 25 November 2009

Tini Rostini Tips kedua hari ke-2

HARI YANG MENYENANGKAN

Kemarin saya senang sekali, pergi bersama anak-anak sekolah TKQ Uswatun Hasanah untuk latihan peragaan manasik haji. Mereka sangant lucu karena mungkin usia mereka yang masih kecil yaitu antara tiga, empat sampai lima tahun, dan paling senang sekali alhamdulilah cuaca sangat mendukung yang biasanya pagi-pagi sudah hujan kemarin cerah sekali, mereka bebas berlarian karena mungkin tempatnya yang luas udaranya yang segar. Disana mereka diajarkan peraktek langsung manasik haji mulai dari miqot sampai sa’I dari sofa dan marwa dan terakhir mereka diberi air jam-jam dan kurma seolah-olah ibadah haji yang sebenarnya wajah mereka sangat riang walaupun cape habis berlarian. Setelah keloter selesai, panitia memberikan hadiah diantaranya hadiah peserta terbanyak, terapih, terjahu, dan terkompak. Alhamdulillah dari sekolah saya mendapat juara peserta terbanyak dan terapih, jadi setelah acara selesai kami semua pulang dengan membawa hadiah.

Selasa, 24 November 2009

Tini Rostini - Tips Pertama Lanjutan Hari Ke-1

Semalam saya melihat bapak Presiden Susilo Bambang Yudoyono pidato,yang isinya banyak sekali membahas tentang perseteruan antara kapolri, Kejaksaan dan KPK. Presiden berharap semuanya diselesaikan dengan cara baik-baik tanpa harus menyalahkan siapa pun, Presiden berkata’’ BERSATU KITA TEGUH BERCERAI KITA RUNTUH’’
Bangsa Indonesia harus senantiasa bersatu tidak boleh terhasut oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan hendaklah bekerjasama dalam menegakkan keadilan sesuai dengan propesinya masing-masing.

Senin, 23 November 2009

Tini Rostini_Tips Pertama_Hari Ke-1

Tini Rostini_Tips Pertama_Hari Ke-1
Sekarang banyak sekali orang pada buka internet ingin mengetahui kejadian pada tahun 2012 tentang kiamat, padahal Al-qur’an suda terlebih dahulu sudah menjelaskan tentang kiamat. Lebih heran lagi yang menggembor-gemborkannya adalah orang luar Islam, yang seharusnya orang Islam yang harus lebih dahulu mengetahui tanda-tanda kimat itu di banding meraka yang semuanya sudah jelas terlihat didepan mata tanda-tandanya, contohnya. seperti
 seorang anak sudah berani menyuruh ibunya bagaikan pembantu.
 Anak perempuan terpaksa dinikahkan karena hamil duluan.
 Istri meninggalkan suami unruk mencari nafkah padahal bukan kewajibannya
 Mesjid banyak dibangun dimana-mana tetapi tidak ada isinya.

Tini Rostini_Tips Pertama_Hari Ke-1

Tini Rostini_Tips Pertama_Hari Ke-1
Sekarang banyak sekali orang pada buka internet ingin mengetahui kejadian pada tahun 2012 tentang kiamat, padahal Al-qur’an suda terlebih dahulu sudah menjelaskan tentang kiamat. Lebih heran lagi yang menggembor-gemborkannya adalah orang luar Islam, yang seharusnya orang Islam yang harus lebih dahulu mengetahui tanda-tanda kimat itu di banding meraka yang semuanya sudah jelas terlihat didepan mata tanda-tandanya, contohnya. seperti
 seorang anak sudah berani menyuruh ibunya bagaikan pembantu.
 Anak perempuan terpaksa dinikahkan karena hamil duluan.
 Istri meninggalkan suami unruk mencari nafkah padahal bukan kewajibannya
 Mesjid banyak dibangun dimana-mana tetapi tidak ada isinya.

Jumat, 20 November 2009

Tugas TPKI, menganalisis makalah

Setelah menganalisa isi makalah yang berjudul “ Gerakan Pemurnian Wahabi: Muhammad bin Abdul wahhab, saya akan mencoba mengkritik makalah tersebut baik dari segi isi, tulisan maupun penuturan yang disampaikan.
Dari segi isi:
1. Banyak sekali ditemukan kalimat yang tidak efektif / boros sehingga dengan banyaknya pengulangan kalimat orang yang membaca akan jenuh / bosan seperti halnya dalam biografi dan gerakan pemurnian wahabi.
2. Tidak terdapat daftar isi dan pustaka yang jelas.
3. Banyak menggunakan serapan bahasa asing / tidak baku yang sulit dimengerti oleh pembaca.
Dalam segi penulisan:
1. Banyak sekali kata yang rancu dan tidak sesuai dengan EYD.Contoh seperti,
• Sepeninggalnya seharusnya wafatnya
• Hairan seharunya heran
• Melacak seharusnya mengamati
• Jawatan seharusnya jabatan
• Datuknya seharusnya ayahnya
• Kedua ibu bapaknya seharusnya orangtuanya
• Mahupun seharusnya maupun
• Terutaman seharusnya terutama
• Karhala seharusnya berhala
• Ka’hah seharusnya ka’bah
• Pelbagai seharusnya berbagai
• Dirusak-rusak seharunya dirusak
2. Terlalu banyak paragraf.
3. Pengulangan kata yang tidak menggunakan strip (-), pada kata “ajaran dan tarekat” yang seharusnya menggunakan strip (-) sesuai dengan kaidah EYD yang telah ditetapkan.
Dalam segi penuturan yang disampaikan:
Tidak sesuai dengan makalah yang sebenarnya, karena sesuai dengan apa yang telah diajarkan / disampaikan oleh dosen pembimbing bawasannya sebuah makalah harus tersusun, dari mulai rincian bab pendahuluan, yaitu: latar belakang masalah, rumuasan masalah dan lain sebagainya, begitupun dengan bab pembahasan dan bab penutupnya.